Semarang – Mahasiswa ISAI UIN Walisongo Semarang melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kampung Laut Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak—wilayah pesisir yang selama bertahun-tahun terdampak abrasi dan banjir rob (2–3 Mei 2024). Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran kontekstual, di mana mahasiswa tidak hanya memahami persoalan ruang secara teoritis di ruang kelas, tetapi juga berinteraksi langsung dengan realitas sosial-ekologis masyarakat pesisir yang menghadapi perubahan lingkungan secara nyata.

Didampingi dosen arsitektur M. Burhan, M.T., dan Abdullah Ibnu Thalhah, M.Pd., mahasiswa melakukan observasi kondisi lingkungan, dokumentasi visual, pemetaan sederhana kawasan, serta dialog partisipatif bersama warga. Diskusi berlangsung hangat di balai pertemuan kampung, membahas kondisi hunian yang terdampak rob, perubahan garis pantai, adaptasi struktur rumah panggung, hingga tantangan sosial-ekonomi yang muncul akibat degradasi lingkungan. Pendekatan ini tidak semata-mata mengumpulkan data, tetapi membangun empati dan pemahaman lintas perspektif antara akademisi dan masyarakat.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak merefleksikan bagaimana desain arsitektur dan tata ruang dapat berperan dalam membangun ketahanan permukiman pesisir. Gagasan mengenai desain adaptif, penggunaan material lokal yang tahan terhadap kelembapan, penguatan struktur bangunan, hingga konsep ruang komunal yang responsif terhadap kondisi pasang surut menjadi bagian dari eksplorasi bersama. Pendekatan berbasis kearifan lokal menjadi kunci, karena solusi yang dirancang harus selaras dengan budaya, kemampuan ekonomi, dan pola hidup masyarakat setempat.
Lebih dari sekadar studi lapangan, pengabdian ini merupakan praktik nyata integrasi seni, arsitektur, dan kepedulian sosial yang menjadi karakter Prodi ISAI. Kehadiran mahasiswa di Timbulsloko menjadi wujud empati akademik—menghadirkan gagasan, mendengarkan harapan warga, serta menumbuhkan semangat kolaborasi untuk masa depan kampung pesisir yang lebih tangguh, adaptif, dan berkelanjutan. Melalui pengalaman ini, mahasiswa belajar bahwa arsitektur bukan hanya tentang bentuk dan estetika, tetapi juga tentang keberpihakan pada kemanusiaan dan keberlanjutan lingkungan.
Ilmu Seni dan Arsitektur Islam Fakultas Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

