Eksplorasi Arsitektur Berkelanjutan di Green Village
Bali, 16 Mei 2024
Program Studi Ilmu Seni dan Arsitektur Islam (ISAI) melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ke Green Village Bali sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual berbasis pengalaman langsung. Kegiatan ini menjadi ruang eksplorasi bagi mahasiswa untuk memahami arsitektur berkelanjutan secara nyata, bukan hanya melalui teori di ruang kelas.

Sustainable Architecture dalam Praktik
Green Village dikenal sebagai kawasan hunian berbasis bambu yang mengedepankan prinsip keberlanjutan. Mahasiswa mempelajari bagaimana desain merespons iklim tropis, memanfaatkan ventilasi alami, serta mengoptimalkan pencahayaan pasif tanpa ketergantungan energi berlebih.
Bangunan cottage dan villa di kawasan ini menunjukkan bahwa material alami seperti bambu mampu menjadi struktur utama yang kuat, fleksibel, dan estetis
Dalam kunjungan ini, mahasiswa tidak hanya mengamati bentuk bangunan, tetapi juga mempelajari sistem yang melatarbelakanginya. Arsitektur berkelanjutan di Green Village diterapkan secara menyeluruh—mulai dari pemilihan material lokal, sistem struktur bambu, strategi ventilasi silang, pencahayaan alami, hingga pengelolaan kawasan yang selaras dengan kontur dan vegetasi sekitar.
Mahasiswa diajak memahami bahwa keberlanjutan bukan sekadar label desain, melainkan pendekatan komprehensif yang mempertimbangkan siklus hidup material, efisiensi energi, serta dampak lingkungan jangka panjang. Bangunan cottage dan villa di kawasan ini memperlihatkan bagaimana bambu dapat menjadi struktur utama yang kokoh sekaligus fleksibel, menghadirkan estetika organik yang menyatu dengan lanskap tropis.
Lokalitas dan Nilai Budaya Bali
Selain aspek teknis, KKL ini memperkaya pemahaman mahasiswa tentang lokalitas adat Bali. Arsitektur Bali tidak dapat dilepaskan dari sistem nilai, kosmologi, dan hubungan harmonis antara manusia, alam, serta spiritualitas.
Mahasiswa mempelajari bagaimana tata ruang tradisional, orientasi bangunan, dan hirarki ruang dibentuk oleh filosofi keseimbangan. Konsep ini memberikan perspektif baru bahwa arsitektur adalah medium budaya—mewujudkan identitas kolektif sekaligus menjaga kesinambungan tradisi.
Pendekatan ini selaras dengan visi Prodi ISAI yang menempatkan arsitektur sebagai disiplin yang tidak hanya teknis, tetapi juga sarat makna, etika, dan nilai.

Mini Workshop: Mengenal Material Bambu
Agenda dilanjutkan dengan mini workshop mengenai karakteristik teknis bambu sebagai material konstruksi. Mahasiswa memperoleh pemaparan mengenai jenis bambu yang digunakan, teknik preservasi, sistem sambungan, hingga metode perawatan untuk menjaga daya tahan struktur.
Diskusi berkembang pada bagaimana bambu sebagai material lokal memiliki potensi besar dalam menjawab isu keberlanjutan global. Fleksibilitasnya memungkinkan eksplorasi bentuk-bentuk arsitektur yang dinamis, sementara sifat alaminya menghadirkan kualitas ruang yang hangat dan humanis.
Workshop ini juga menjadi ruang dialog kritis—mahasiswa diajak menganalisis kelebihan dan keterbatasan bambu dibanding material konvensional seperti beton dan baja, sekaligus mengeksplorasi peluang inovasi desain berbasis material alami.
Pengalaman ini membuka perspektif bahwa inovasi arsitektur masa depan dapat bertumpu pada material lokal yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
KKL ini menjadi momentum reflektif bahwa proses belajar arsitektur harus melibatkan pengalaman inderawi dan pemahaman kontekstual. Mahasiswa tidak hanya melihat bangunan sebagai objek visual, tetapi sebagai sistem ekologis, sosial, dan budaya yang saling terhubung.
Melalui interaksi langsung dengan praktisi, pengamatan lapangan, serta diskusi kritis, mahasiswa memperoleh pemahaman komprehensif mengenai bagaimana arsitektur dapat menjadi solusi yang adaptif terhadap lingkungan sekaligus menghormati nilai lokal.
Rangkaian Agenda KKL di Bali
Selain kunjungan akademik ke Green Village, rangkaian KKL Prodi ISAI di Bali juga mencakup eksplorasi budaya dan sejarah di Desa Adat Panglipuran, yang dikenal sebagai desa adat dengan tata ruang terjaga dan kearifan lokal yang kuat; studi monumentalitas dan narasi sejarah di Monumen Bajra Sandhi; serta pengalaman lanskap dan ruang alam di Pantai Melasti dan kawasan Danau Bedugul. Kegiatan juga dilengkapi dengan kunjungan ke pusat oleh-oleh khas Bali, Krisna Oleh-Oleh Bali, sebagai bagian dari pengenalan ekonomi kreatif lokal. Rangkaian agenda ini menghadirkan pengalaman komprehensif yang memadukan studi arsitektur, pemahaman budaya, sejarah, serta lanskap Bali secara utuh.
Ilmu Seni dan Arsitektur Islam Fakultas Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang